Menurutnya, warga yang tidak memahami sistem tersebut terkadang menganggap pemerintah tidak memberikan bantuan, padahal terdapat ketentuan administrasi yang menjadi dasar penentuan penerima.
Godfried juga memberikan contoh mengenai Program Indonesia Pintar (PIP) yang menurutnya dapat membantu anak-anak dari keluarga kurang mampu tetap melanjutkan pendidikan hingga jenjang tinggi.
Ia menceritakan pengalaman saat membantu pengurusan PIP bagi sejumlah anak yang memiliki keterbatasan ekonomi tetapi memiliki kesempatan melanjutkan pendidikan.
“Baru-baru ini saya urus ada dua orang ke ITB. TAU Ibu ITB? Istri tidak jual di Bandung. Mamaknya, orang tuanya jualan rengge-rengge di simpang Limun. Masuk ke ITB Perminyakan, tidak sanggup orang tuanya mengkuliahkan. Enggak usah berangkat kau, enggak ada uangku. Karena uang kuliahnya dia per semester 25 juta. 1 tahun 50 juta. Enggak sanggup. Kebetulan enggak saya bawa orang ke sini. Kita urus PIP-nya dapat. Dia jadi kuliah di ITB sampai tamat tidak bayar kuliah kan. Luar biasa kan?”
Dalam kesempatan itu, Godfried juga mengingatkan warga agar tidak langsung menyerah ketika menghadapi persoalan biaya pendidikan.













