Ia menyebut kondisi fisiknya menurun setelah insiden tersebut. “Saya merasa sangat lemas dan pusing karena banyaknya oknum pengamanan yang menahan saya. Selain saya, ada juga teman-teman yang mendapat ancaman verbal,” katanya.
Tahad menuturkan, pengamanan di lokasi diduga melibatkan petugas keamanan internal BRI Sumatera Utara. Dalam aksinya, mahasiswa menilai tidak ada ruang dialog yang terbuka untuk menanggapi tuntutan mereka. “Kami tidak mendapatkan jawaban atas tuntutan kami. Tidak ada ketegasan, dan diskusi tidak berjalan,” ujarnya.
Atas peristiwa tersebut, mahasiswa menyatakan akan membawa kasus dugaan kekerasan itu ke ranah hukum. “Kami akan membuat laporan ke kepolisian agar kejadian ini diproses secara hukum dan menjadi perhatian publik,” kata Tahad.
Dugaan KUR Fiktif Rp17 Miliar
Aksi mahasiswa tersebut dipicu oleh dugaan penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) fiktif senilai lebih dari Rp17 miliar di BRI Unit Sei Kepayang, Cabang Tanjungbalai. Program KUR yang seharusnya menyasar pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) diduga disalurkan menggunakan identitas debitur fiktif, sementara dana kreditnya dimanfaatkan oleh pihak tertentu.













