Saat dimintai penjelasan mengenai metode pelaksanaan pekerjaan, pelaksana proyek, Saidik, membenarkan bahwa konstruksi baru memang dibangun dengan memanfaatkan jembatan lama sebagai bagian dari pekerjaan.
Pengakuan tersebut memunculkan berbagai pertanyaan dari masyarakat mengenai dasar perencanaan teknis, persetujuan metode konstruksi, hingga pengawasan yang dilakukan oleh instansi terkait selama proyek berlangsung.
“Kami muak! Anggaran ratusan juta, hasilnya kayak tambal sulam. Ini jalur utama truk material berat lewat tiap hari. Kalau ambles siapa yang tanggung? Negara? Atau nyawa warga,” tegas Evadison dengan nada kecewa.
Ia juga mempertanyakan siapa yang bertanggung jawab terhadap metode pekerjaan tersebut.
“Siapa yang menyetujui metode kerja seperti ini? Mana pengawasan dari Dinas terkait? Mana konsultan?” lanjut Evadison.
Menurutnya, pembangunan jembatan tersebut merupakan impian masyarakat yang telah diperjuangkan sejak tahun 1998. Setelah penantian hampir 28 tahun, warga berharap proyek tersebut mampu menghadirkan akses transportasi yang aman dan memiliki daya tahan jangka panjang.













