MEDAN, seputaranindonesia.com/ – Pengalaman berbeda dirasakan tiga siswa SMP yang terpilih sebagai Wali Kota Pelajar, Wakil Wali Kota Pelajar, dan Sekretaris Daerah (Sekda) Pelajar. Dalam kunjungan ke Kantor Wali Kota Medan, Jumat (30/10/2026), ketiganya mendapat kesempatan duduk di kursi yang biasa digunakan Wali Kota Medan Rico Tri Putra Bayu Waas saat memimpin rapat pemerintahan.
Kesempatan tersebut menjadi bagian dari kegiatan Pembelajaran Pemerintah Cilik Berbasis Pengenalan Cagar Budaya Kota Medan yang diikuti 20 siswa SMP. Melalui kegiatan ini, para pelajar diajak mengenal secara langsung lingkungan pemerintahan, sejarah Balai Kota, serta berbagai aspek penyelenggaraan pemerintahan daerah.
Dalam pertemuan tersebut, Rico Waas mengajak para siswa memahami sejarah gedung Balai Kota Medan dan sejumlah bangunan bersejarah yang menjadi bagian dari identitas kota. Ia berharap pengalaman tersebut dapat memperluas wawasan generasi muda sekaligus menumbuhkan kepedulian terhadap sejarah dan perkembangan Kota Medan.
Rico mengawali penjelasannya dengan memaparkan sejarah gedung Balai Kota yang dibangun sekitar 1989 dan mulai difungsikan pada 1990. Sebelum menempati gedung tersebut, Wali Kota Medan berkantor di bangunan bersejarah Grand City Hall bersama Sekretaris Daerah.
Para siswa juga diperkenalkan dengan sejumlah bangunan dan kawasan bersejarah, di antaranya Bank Indonesia, Kantor Pos yang kini dikenal sebagai Pos Bloc, kawasan Kesawan, rumah Tjong A Fie, London Sumatera, Istana Maimun, Masjid Raya Al-Mashun, serta Taman Sri Deli.
Menurut Rico, keberadaan bangunan bersejarah tersebut tidak hanya menjadi saksi perjalanan Kota Medan, tetapi juga memiliki nilai penting dalam membentuk karakter dan identitas daerah.
“Fungsinya bisa kita lihat sebagai sebuah bangunan monumental yang menjadi daya tarik dan yang kedua menjadi identitas kota ini,” ujarnya.
Kegiatan tersebut turut dihadiri Asisten Administrasi Umum Setda Kota Medan Laksamana Putra Siregar dan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Medan Ahmad Barli Mulia Nasution.
Selain mengenal sejarah dan cagar budaya, para siswa mendapat penjelasan mengenai pembagian tugas organisasi perangkat daerah (OPD) di lingkungan Pemerintah Kota Medan. Rico menjelaskan bahwa setiap perangkat daerah memiliki kewenangan dan tanggung jawab masing-masing dalam menjalankan pelayanan publik.
Salah satu contoh yang disampaikan adalah tugas Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Medan dalam menangani urusan pendidikan tingkat PAUD, TK, SD, hingga SMP. Sementara itu, pengelolaan pendidikan SMA merupakan kewenangan pemerintah provinsi.
Rico juga memperkenalkan sumber pendapatan daerah kepada para pelajar, termasuk pajak yang dibayarkan masyarakat. Pendapatan tersebut menjadi salah satu sumber pembiayaan berbagai program pemerintah dan pembangunan kota.
Ia menjelaskan bahwa penggunaan anggaran daerah tidak dilakukan secara sembarangan, melainkan melalui tahapan perencanaan, pelaksanaan, hingga pertanggungjawaban. Setiap tahun, pemerintah daerah juga harus menyusun laporan mengenai pelaksanaan program dan pembangunan yang telah dilakukan.
“Setiap tahunnya Pemerintah Kota Medan juga harus membuat laporan tentang apa yang sudah dibangun. Lalu diperiksa oleh siapa? Badan Pemeriksa Keuangan,” jelasnya.
Menurut Rico, pemeriksaan oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) merupakan bagian dari mekanisme pengawasan untuk memastikan pengelolaan keuangan daerah berjalan sesuai ketentuan. Pengawasan tersebut juga diperlukan untuk mencegah korupsi dan penyalahgunaan anggaran.
Di akhir pertemuan, Rico berpesan agar para siswa terus meningkatkan pengetahuan, memiliki cita-cita tinggi, serta menumbuhkan rasa kepedulian dan kecintaan terhadap daerah tempat mereka tinggal.
“Jangan lupa, kita semua harus cinta sama kota ini, harus mampu berjuang untuk membangun kota ini,” pesannya.
Setelah sesi pembelajaran, Rico mengajak seluruh peserta berkeliling Kantor Wali Kota Medan. Para siswa mengunjungi sejumlah ruangan, termasuk ruang kerja Wali Kota, untuk melihat secara langsung lingkungan kerja dan aktivitas penyelenggaraan pemerintahan.
Melalui kegiatan tersebut, para pelajar diharapkan tidak hanya mengenal sejarah dan bangunan cagar budaya Kota Medan, tetapi juga memahami peran pemerintah daerah, proses pengambilan kebijakan, serta pentingnya pengelolaan keuangan yang dapat dipertanggungjawabkan. Pengalaman ini menjadi salah satu bentuk pengenalan pemerintahan sejak dini agar generasi muda lebih memahami lingkungan dan perkembangan kotanya.













