” Pengalaman tersebut menjadi bahan evaluasi untuk memperkuat standar operasional prosedur (SOP) kebencanaan sekaligus meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat”, sebut Rico Waas.
Dijelaskan Rico Waas, banjir tidak berhenti ketika air surut. Persoalan baru muncul berupa ledakan volume sampah yang meningkat dari rata-rata 1.500–1.700 ton per hari menjadi 6.000–6.500 ton per hari. Kondisi itu memicu ancaman penyakit dan memperberat proses pemulihan.
Rico Waas menegaskan, penanganan bencana tidak bisa dilakukan pemerintah sendirian. Kolaborasi dengan relawan, komunitas, dan masyarakat menjadi kunci percepatan pemulihan.
Sementara itu, Wali Kota Banda Aceh Illiza Sa’aduddin Djamal menyoroti pentingnya mitigasi sebelum bencana terjadi. Berkaca dari pengalaman panjang Aceh menghadapi tsunami dan banjir, Banda Aceh kini memperkuat sistem deteksi dini, jalur evakuasi, rumah pompa, hingga edukasi kebencanaan berbasis keluarga dan sekolah.
Illiza mengatakan, ketangguhan kota harus dibangun dari kebiasaan sehari-hari masyarakat.”Kesiapsiagaan harus menjadi budaya. Masyarakat harus tahu apa yang dilakukan saat gempa, saat banjir, ke mana harus evakuasi, dan bagaimana melindungi diri,” jelasnya.













