Sebelumnya, Dr. Sofyan Tan mengatakan bahwa pendirian Universitas Satya Terra Bhinneka merupakan puncak perjuangannya selama hampir empat dekade di bidang pendidikan, pelestarian lingkungan, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat. Ia menegaskan universitas tersebut dibangun dengan semangat pendidikan multikultural yang terbuka bagi semua kalangan tanpa membedakan suku, agama, maupun latar belakang sosial ekonomi.
Dalam kesempatan tersebut, Sofyan Tan sempat mengungkapkan perjalanan panjangnya yang penuh tantangan dalam membangun lembaga pendidikan. Ia bahkan sempat berniat menjual sekolah karena terlilit utang yang membengkak dari Rp60 juta menjadi Rp1,2 miliar. Namun, dukungan dari berbagai pihak—termasuk almarhum Insinyur Sarwono Kusuma Atmaja, rekannya bernama Paidi yang mengagunkan tanahnya, serta sang istri—membuat api perjuangan tersebut terus menyala hingga berhasil mendirikan kampus megah ini.
Menurut Sofyan Tan, Universitas Satya Terra Bhinneka dikembangkan dengan konsep pembangunan berkelanjutan melalui program studi yang saling terintegrasi, mulai dari pendidikan, manajemen hutan, pertanian, hingga bisnis digital. Selain itu, pihak kampus juga berencana membangun pusat riset pertanian yang bekerja sama dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) guna mendukung ketahanan pangan nasional dan menghasilkan berbagai inovasi di bidang pertanian.













