LUBUK PAKAM, seputaranindonesia.com – Persidangan perkara dugaan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) di Pengadilan Negeri Lubuk Pakam Kelas IA, Kamis (23/4/2026), tidak hanya membahas pokok perkara, tetapi juga diwarnai perdebatan terkait peliputan media yang memicu diskusi antara majelis hakim dan wartawan.
Perkara bernomor 214/Pid.Sus/2026/PN Lubuk Pakam tersebut dipimpin oleh Hakim Ketua Hiras Sitanggang, S.H., M.H., didampingi dua hakim anggota serta panitera pengganti. Terdakwa Sherly hadir bersama tim kuasa hukum yang terdiri dari Jonson Sibarani, S.H., M.H., Togar Lubis, S.H., M.H., dan Sudirman, S.H., M.H., sementara Jaksa Penuntut Umum diwakili Ricky Sinaga.
Ketegangan muncul saat saksi pelapor berinisial R menyampaikan keberatan terhadap kehadiran media dalam persidangan. Ia mengaku khawatir dampak pemberitaan akan berpengaruh pada kehidupan pribadi, khususnya anaknya yang masih bersekolah.
“Izin yang mulia, sebelum sidang dimulai saya ingin sampaikan beberapa hal, satu soal persidangan hari ini saya keberatan diliput oleh media, karena ini saya kesini dipanggil sebagai saksi untuk diperiksa dalam perkara rumah tangga, dan saya ada rumah tangga, yaitu anak saya sedang sekolah saya takut, pemberitaan sampai keteman-temannya dan takut anak saya di bully di sekolah, karena anak yang paling besar ikut sama saya,” ujar R.













