MEDAN, seputaranindonesia.com – Pekan Raya Sumatera Utara (PRSU) berpeluang masuk dalam kalender event nasional setelah mendapat dukungan dari Komisi VII DPR RI. Dukungan tersebut disambut positif oleh Gubernur Sumatera Utara Muhammad Bobby Afif Nasution yang menilai langkah itu akan memperkuat promosi budaya sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.
Dukungan tersebut mengemuka saat Komisi VII DPR RI melaksanakan kunjungan kerja spesifik ke kawasan PRSU ke-50 di Jalan Gatot Subroto, Medan, Kamis (9/7/2026).
Bobby mengatakan penyelenggaraan PRSU tahun ini memiliki arti khusus karena menjadi edisi pertama pada masa kepemimpinannya sekaligus menandai kebangkitan kegiatan berskala besar setelah pandemi Covid-19. Menurutnya, PRSU bukan hanya ruang hiburan, tetapi juga menjadi ajang mempertemukan potensi budaya, sumber daya manusia, serta ekonomi kreatif dari seluruh kabupaten dan kota di Sumatera Utara.
“Di daerah lain mungkin hanya menampilkan satu jenis tarian, sedangkan di Sumatera Utara sedikitnya ada lima etnis yang ditampilkan melalui pakaian adat, kirab budaya, hingga tarian. Keberagaman ini menjadi potensi besar untuk memperkuat kebudayaan, sumber daya manusia, dan perekonomian,” ujar Bobby.
Ia berharap PRSU dapat ditetapkan sebagai bagian dari kalender event nasional Kementerian Pariwisata sehingga memiliki daya tarik yang lebih besar dalam mempromosikan kekayaan budaya serta potensi wisata Sumatera Utara ke tingkat nasional maupun internasional.
Dalam kesempatan itu, Bobby juga mengajak seluruh pemerintah kabupaten dan kota di Sumatera Utara untuk bersama-sama mendukung keberhasilan PRSU. Ia menilai seluruh daerah perlu memanfaatkan paviliun yang telah tersedia sebagai media promosi berbagai potensi unggulan masing-masing.
“Jangan ada ego daerah. Paviliunnya sudah ada, tetapi tidak dibuka atau tidak dimanfaatkan untuk mengenalkan daerah masing-masing kepada masyarakat,” katanya.
Menurut Bobby, keberhasilan PRSU merupakan keberhasilan seluruh masyarakat Sumatera Utara. Apabila masuk dalam agenda nasional, penyelenggaraan PRSU diyakini akan memberikan dampak yang lebih besar terhadap sektor pariwisata, budaya, UMKM, hingga investasi.
Usai melakukan pertemuan, Bobby bersama rombongan Komisi VII DPR RI meninjau sejumlah paviliun kabupaten dan kota, di antaranya Paviliun Kabupaten Asahan, Kabupaten Karo, dan Kabupaten Deliserdang.
Sementara itu, Ketua Tim Kunjungan Kerja Spesifik Komisi VII DPR RI Evita Nursanty menilai usia emas PRSU ke-50 menjadi momentum tepat untuk melakukan transformasi penyelenggaraan agar semakin profesional dan mampu memberikan manfaat ekonomi yang lebih luas.
Menurutnya, PRSU telah berkembang menjadi wadah promosi budaya, pariwisata, UMKM, dan ekonomi kreatif yang melibatkan seluruh kabupaten dan kota di Sumatera Utara, bahkan menghadirkan partisipasi dari Pulau Pinang, Malaysia.
“Saya melihat ada semangat besar untuk menjadikan PRSU tidak sekadar sebagai hiburan, tetapi sebagai ruang yang memiliki dampak ekonomi dan sosial yang luas. PRSU harus menjadi etalase budaya, UMKM, ekonomi kreatif, sekaligus media promosi pariwisata dan potensi daerah,” ujarnya.
Evita mendorong agar PRSU memiliki rencana pengembangan jangka panjang selama lima hingga sepuluh tahun sehingga mampu berkembang menjadi pusat pameran, perdagangan, seni, budaya, dan ekonomi kreatif yang menarik wisatawan, pembeli, maupun investor dari dalam dan luar negeri.
Ia juga mengusulkan kehadiran paviliun khusus sektor pariwisata serta membuka kesempatan bagi UMKM dari luar daerah untuk ikut berpartisipasi. Komisi VII DPR RI, menurutnya, siap membangun sinergi dengan kementerian terkait agar PRSU memperoleh dukungan pemerintah pusat.
“Ke depan PRSU harus berkembang menjadi pusat pameran, perdagangan, seni, budaya, dan ekonomi kreatif yang mampu menarik pembeli maupun investor dari luar negeri. Ini membutuhkan kolaborasi semua pihak karena tidak mungkin dilakukan sendiri-sendiri,” katanya.
Direktur Utama PT Pembangunan Prasarana Sumatera Utara (PPSU), Very Indrawan, menyampaikan apresiasi atas kunjungan Komisi VII DPR RI yang dinilai menjadi dukungan nyata terhadap pengembangan PRSU sebagai pusat pelestarian budaya sekaligus penggerak ekonomi daerah.
Ia menjelaskan PRSU ke-50 diikuti 33 paviliun kabupaten dan kota serta satu paviliun negara sahabat. Seluruh penyelenggaraan dilakukan melalui skema kemitraan tanpa menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).
“Sebanyak 75% konten acara diisi oleh putra-putri daerah sebagai bentuk komitmen menjadikan PRSU sebagai panggung utama bagi pelaku seni, budaya, dan ekonomi kreatif lokal,” ujarnya.
Very menambahkan berbagai pembenahan terus dilakukan, mulai dari sistem pelayanan, harga tiket, pengelolaan parkir, hingga peningkatan kenyamanan pengunjung. Hingga hari keenam pelaksanaan, PRSU telah dikunjungi 25.447 orang dengan nilai transaksi ekonomi mencapai lebih dari Rp511 juta.
Ia berharap dukungan Komisi VII DPR RI dapat mempercepat transformasi PRSU menjadi ajang pameran bertaraf nasional yang semakin profesional dan mampu memperkuat ekosistem budaya, pariwisata, serta ekonomi kreatif di Sumatera Utara.













