Medan, seputaranindonesia.com – Gubernur Sumatera Utara (Sumut) Muhammad Bobby Afif Nasution mengingatkan bahwa peringatan kemerdekaan tidak boleh berhenti pada seremoni. Menurutnya, makna kemerdekaan harus diwujudkan melalui kerja nyata yang mampu menghadirkan manfaat pembangunan secara langsung bagi masyarakat.
Pesan tersebut disampaikan Bobby dalam Resepsi Kenegaraan memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia tingkat Provinsi Sumatera Utara yang digelar di Aula Tengku Rizal Nurdin, Jalan Sudirman Nomor 41, Medan, Senin (17/8/2026) malam.
Resepsi tersebut dihadiri para Konsul Jenderal (Konjen) negara-negara sahabat serta sejumlah undangan. Dalam kesempatan itu, Bobby menilai pembangunan Sumut membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, mulai dari pemerintah, masyarakat, dunia usaha hingga mitra internasional.
Ia menegaskan bahwa berbagai cita-cita pembangunan tidak akan bermakna apabila hanya berhenti sebagai harapan tanpa diwujudkan menjadi hasil yang dapat dirasakan masyarakat.
“Cita-cita itu baru cukup kalau sudah menjadi kenyataan dan sudah tercapai,” tegas Bobby.
Menurut Bobby, Sumatera Utara memiliki modal besar untuk berkembang. Potensi tersebut antara lain berasal dari kekayaan alam, termasuk Danau Toba, serta berbagai sumber daya lainnya yang dinilai perlu dikelola secara tepat dan berkelanjutan.
Potensi tersebut, kata dia, harus diperkuat melalui kolaborasi agar mampu memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi masyarakat sekaligus meningkatkan daya saing Sumut.
Semangat kerja bersama itu juga dikaitkan Bobby dengan target Indonesia Emas 2045. Ia menyebut pembangunan tidak mungkin hanya mengandalkan satu pihak karena setiap unsur memiliki peran masing-masing dalam mencapai tujuan bersama.
Bobby kemudian mengapresiasi perumpamaan yang disampaikan Konjen Malaysia di Medan Shahril Nizam Abdul Malek mengenai perlombaan panjat pinang. Menurut Bobby, analogi tersebut menggambarkan bahwa keberhasilan pembangunan membutuhkan pihak yang memanjat, menopang, mengatur strategi dan menjaga agar seluruh proses dapat berlangsung dengan baik.
“Semangat kolaborasi itu sejalan dengan pesan Konjen Malaysia yang mengibaratkan pembangunan seperti perlombaan panjat pinang. Untuk mencapai puncak, tidak ada satu pihak pun yang dapat berdiri sendiri. Ada yang memanjat, menopang, memberi arah, sekaligus memastikan agar tidak terjatuh. Dengan semangat kebersamaan tersebut, ‘hadiah’ di puncak bukan sekadar hadiah perlombaan, melainkan kemakmuran, kesempatan, dan masa depan yang lebih baik bagi seluruh masyarakat Sumut,” ucap Bobby.
Selain kolaborasi, Bobby menyoroti pentingnya pemerintah menghilangkan berbagai hambatan yang dapat menyulitkan masyarakat maupun pelaku usaha. Ia mengaku sependapat dengan pesan Konjen Malaysia terkait perlunya membuka berbagai “duri” yang masih menghambat proses pembangunan.
Menurutnya, pemerintah harus memberikan pelayanan yang mudah, cepat, dan tidak membuat masyarakat maupun dunia usaha menghadapi kesulitan yang tidak diperlukan.
“Jangan mempersulit orang. Kita saja sebagai umat manusia kalau dipersulit sesama manusia, kesalnya luar biasa,” ujarnya.
Bobby berharap momentum HUT ke-81 Kemerdekaan RI dapat menjadi dorongan untuk memperkuat pelayanan publik, meningkatkan investasi, mengembangkan potensi daerah, serta memastikan pembangunan berlangsung secara berkelanjutan.
Ia juga menargetkan Sumatera Utara tidak hanya mampu berkembang secara ekonomi, tetapi menjadi salah satu daerah yang memberikan kontribusi penting bagi pencapaian Indonesia Emas 2045.
“Dengan sinergi pemerintah, masyarakat, dunia usaha, dan negara-negara sahabat, Sumut diharapkan mampu semakin berdaya saing dan memberikan kontribusi nyata dalam mewujudkan Indonesia Emas 2045. Kita berharap Sumatera Utara menjadi emas yang paling bersinar di 2045 nanti,” ujarnya.
Sementara itu, Konjen Malaysia di Medan Shahril Nizam Abdul Malek yang mewakili negara-negara sahabat menyampaikan apresiasi terhadap potensi serta arah pembangunan Sumatera Utara.
Shahril kembali menggunakan analogi panjat pinang untuk menggambarkan pentingnya kepercayaan dan pembagian peran dalam pembangunan. Menurutnya, setiap orang memiliki kemampuan dan posisi berbeda yang harus saling melengkapi.
“Tidak ada satu orang pun yang bisa sampai ke puncak dengan kekuatan sendiri. Yang paling kuat berada di bawah, yang paling ringan mungkin berada di atas, yang berpengalaman mengatur strategi. Semua harus percaya kepada orang lain,” ujarnya.
Ia menilai Sumatera Utara mempunyai peluang besar di berbagai sektor, termasuk pertanian dan perkebunan, industri serta pariwisata. Namun, potensi tersebut membutuhkan dukungan berupa infrastruktur yang memadai, konektivitas yang kuat dan proses perizinan yang memberikan kemudahan.
Menurut Shahril, dukungan tersebut penting agar potensi daerah dapat dikonversi menjadi pertumbuhan ekonomi, investasi, lapangan pekerjaan serta peningkatan keterampilan masyarakat.
Ia kembali menggunakan perumpamaan durian untuk menggambarkan potensi Sumatera Utara. Buah tersebut memiliki daya tarik, tetapi membutuhkan cara yang tepat untuk membukanya agar dapat dinikmati tanpa melukai siapa pun.
“Kalau salah membukanya, kita sendiri yang terluka. Kalau terlalu banyak duri dalam prosesnya, investor mungkin memilih makan buah yang lain,” katanya.
Karena itu, Shahril menyatakan perwakilan negara-negara sahabat di Sumatera Utara siap menjadi bagian dari upaya mengembangkan potensi daerah melalui berbagai bentuk kerja sama.
Kerja sama tersebut mencakup sektor investasi, pariwisata, pendidikan, perdagangan hingga hubungan internasional.
Pada kesempatan itu, Shahril juga menyampaikan apresiasi terhadap kepemimpinan Bobby Nasution dalam mendorong pembangunan infrastruktur dan transformasi ekonomi Sumatera Utara. Perhatian terhadap pembangunan di Kepulauan Nias turut menjadi salah satu hal yang disorot.
Resepsi kenegaraan tersebut turut dihadiri Ketua TP PKK Sumut Kahiyang Ayu, Wakil Gubernur Sumut Surya, Staf Ahli TP PKK Sumut Titiek Sugiharti, Penjabat Sekretaris Daerah Provinsi Sumut Timur Tumanggor, unsur Forkopimda Sumut, pimpinan BUMD, para rektor, pelatih serta Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka).













