MEDAN, seputaranindonesia.com – Temuan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) RI terkait penyaluran Kredit Investasi (KI) senilai Rp504 juta di PT Bank Sumut kembali menjadi sorotan. Dalam Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) Kepatuhan atas Operasional Bank Pembangunan Daerah Sumatera Utara Tahun 2024 hingga Triwulan III Tahun 2025, BPK mengungkap adanya sejumlah kelemahan dalam proses permohonan kredit, analisis kredit, hingga persetujuan pemberian fasilitas kredit produktif.
Temuan tersebut merupakan bagian dari tujuh temuan pemeriksaan yang diungkap BPK RI terhadap operasional Bank Sumut. Dari total temuan tersebut, empat di antaranya berkaitan dengan pengelolaan kredit produktif.
BPK mencatat, hingga 30 September 2025, Bank Sumut menyalurkan kredit produktif sebesar Rp10,38 triliun dengan rasio kredit bermasalah atau Non Performing Loan (NPL) sebesar Rp416,24 miliar atau sekitar 4,01 persen dari total kredit produktif.
Salah satu temuan yang menjadi perhatian adalah fasilitas Kredit Investasi kepada seorang debitur perorangan berinisial SBi yang dikelola Bank Sumut Kantor Cabang Stabat.
Berdasarkan laporan pemeriksaan, debitur memperoleh fasilitas Kredit Investasi dengan plafon Rp504 juta untuk pembelian rumah toko (ruko) yang digunakan sebagai lokasi usaha rumah makan. Kredit tersebut diajukan pada 3 Juni 2022 dengan jangka waktu 120 bulan.













