Sumatera Utara

Polda Sumut Optimalkan 6,16 Hektare Lahan, Bawang Putih Ditargetkan Jadi Penopang Swasembada

×

Polda Sumut Optimalkan 6,16 Hektare Lahan, Bawang Putih Ditargetkan Jadi Penopang Swasembada

Sebarkan artikel ini

Lahan berada di sembilan wilayah dengan ketinggian sekitar 1.000 mdpl. Panen November 2026 diarahkan untuk memenuhi kebutuhan bibit dan memperluas penanaman.

Dirbinmas Polda Sumut Kombes Pol Afriadi Lemana menyampaikan program pengembangan bawang putih di Sumatera Utara yang memanfaatkan 6,16 hektare lahan di sembilan wilayah, Samosir, Rabu (19/8/2026). (seputaranindonesia.com/ist)

SAMOSIR, seputaranindonesia.com – Upaya memperkuat produksi bawang putih di Sumatera Utara mendapat dukungan dari Kepolisian Daerah Sumatera Utara (Polda Sumut). Sebanyak 6,16 hektare lahan yang berada di sembilan wilayah kepolisian resor disiapkan untuk pengembangan komoditas tersebut.

Program ini tidak hanya diarahkan untuk menambah ketersediaan bawang putih, tetapi juga membangun pola budidaya berkelanjutan yang melibatkan petani dan pemilik lahan. Hasil panen perdana bahkan direncanakan menjadi sumber bibit untuk penanaman berikutnya.

Direktur Pembinaan Masyarakat (Dirbinmas) Polda Sumut Kombes Pol Afriadi Lemana menyebut pengembangan bawang putih dilakukan di wilayah yang dinilai mempunyai karakter geografis sesuai dengan kebutuhan tanaman.

“Lahan itu tersebar di sembilan kepolisian resor yang ada di Sumatera Utara,” ujar Afriadi di Samosir, Rabu (19/8/2026).

Lahan tersebut berada di wilayah Polres Mandailing Natal, Karo, Deli Serdang, Samosir, Humbang Hasundutan, Simalungun, Toba, Dairi, dan Tapanuli Utara.

Menurut Afriadi, faktor ketinggian menjadi salah satu pertimbangan dalam menentukan lokasi. Area penanaman yang dipilih berada di kisaran 1.000 meter di atas permukaan laut (mdpl), yang dinilai sesuai untuk pengembangan bawang putih.

Polda Sumut menggunakan tiga varietas dalam kegiatan tersebut, yakni Lumbu Hijau, Lumbu Kuning, dan Sangga Sembalun.

“Bibit bawang yang ditanam tersebut merupakan jenis varietas Lumbu Hijau, Lumbu Kuning, dan Sangga Sembalun,” katanya.

Pelaksanaan program turut melibatkan 10 kelompok tani dan masyarakat yang memiliki lahan. Pemerintah daerah serta Kementerian Pertanian juga diajak bekerja sama, terutama dalam mendukung proses budidaya dan peningkatan produktivitas.

“Kami siap mendukung program pemerintah dalam percepatan swasembada, khususnya bawang putih,” ujar Afriadi.

Keterlibatan berbagai pihak tersebut diharapkan membuat pemanfaatan lahan tidak berhenti pada kegiatan penanaman. Program ini juga diarahkan agar memberikan manfaat ekonomi kepada masyarakat yang menjadi bagian dari kegiatan pertanian.

Salah satu tahap penting program tersebut adalah pemanfaatan hasil panen. Polda Sumut menargetkan panen berlangsung pada November 2026, dengan sebagian hasilnya diarahkan untuk memenuhi kebutuhan bibit pada musim tanam berikutnya.

“Panen yang ditargetkan pada November 2026 akan diprioritaskan sebagai sumber bibit untuk penanaman kembali sehingga cakupan produktivitas dapat diperluas,” katanya.

Dari sisi petani, dukungan juga diberikan melalui penyediaan kebutuhan produksi. Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan Kabupaten Samosir Tumiur Gultom mengatakan peserta memperoleh bibit, sarana pertanian, pupuk, serta pendampingan selama proses budidaya.

“Setelah berhasil, petani sudah memiliki pasar karena hasilnya dibeli langsung oleh Kementerian Pertanian menggunakan dana APBN. Bibit bawang putih juga akan dikembalikan untuk ditanam kembali selama dua tahun,” katanya.

Skema tersebut membuka peluang agar petani tidak hanya memperoleh manfaat dari hasil produksi, tetapi juga memiliki keberlanjutan usaha melalui ketersediaan bibit dan pasar. Pola penanaman kembali selama dua tahun juga diharapkan memperluas cakupan lahan produktif.

Pengembangan bawang putih di sejumlah daerah Sumatera Utara ini menjadi bagian dari dukungan terhadap agenda ketahanan pangan nasional. Optimalisasi lahan bersama kelompok tani dan pemerintah diharapkan dapat memperkuat produksi lokal sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap pasokan dari luar daerah.

Dengan lahan yang tersebar di sembilan kabupaten, keterlibatan kelompok tani, serta dukungan pemerintah dan kepolisian, program tersebut diarahkan untuk membangun rantai produksi bawang putih yang berkesinambungan di Sumatera Utara.