Produksi Harus Mampu Penuhi Permintaan
Bobby juga menyoroti pentingnya keseimbangan antara kemampuan produksi dengan kebutuhan pasar. Menurutnya, peluang pasar yang besar tidak akan optimal apabila produksi daerah belum mampu memenuhi permintaan.
Ia mencontohkan sejumlah komoditas yang berasal dari Kepulauan Nias. Potensinya cukup besar, tetapi pengembangannya masih menghadapi persoalan terkait kapasitas produksi dan kesesuaian dengan kebutuhan pasar.
“Banyak yang berpotensi, seperti di Kepulauan Nias. Di sana belum ketemu pasar yang sesuai. Namun masalahnya bukan pasarnya, tetapi jumlah produksi yang belum memenuhi kebutuhan pasar,” jelas Bobby.
Karena itu, peningkatan produksi harus dilakukan secara terukur dan berkelanjutan. Pemerintah bersama pelaku usaha serta masyarakat juga perlu menentukan komoditas prioritas yang memiliki peluang pasar dan nilai ekonomi tinggi.
“Setelah komoditas itu sesuai kebutuhan pasar, pemerintah dan pihak terkait pun perlu mengintervensi. Jadi harus ada kolaborasi bersama, seperti penetapan target tahunan komoditas apa yang perlu kita capai,” jelasnya.
Bobby menegaskan pemerintah memiliki peran dalam menyiapkan kebijakan, program, dan dukungan anggaran. Sementara masyarakat tetap menjadi pelaku utama dalam proses produksi.
Menurutnya, pola tersebut perlu dibangun agar intervensi pemerintah benar-benar menghasilkan manfaat ekonomi yang dapat dirasakan masyarakat.
“Makanya program dan anggaran pemerintah harus menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi masyarakat. Karenanya kami juga ingin menjalin kerja sama untuk meneliti dan mengembangkan komoditas yang berpotensi untuk bisa diekspor,” pungkasnya.













