“Yang paling membekas di hati saya adalah melihat bagaimana ulos tetap hidup sebagai bagian dari keseharian masyarakatnya. Di balik setiap lembar ulos, ada tangan-tangan terampil para perempuan Batak yang menjaga tradisi itu tetap hidup,” kata Widiyanti.
Menurut Widiyanti, keberlanjutan tradisi lokal dapat menjadi modal penting dalam pengembangan pariwisata. Karakter budaya yang tumbuh dan dipertahankan oleh masyarakat setempat dinilai mampu menciptakan kekhasan destinasi yang tidak mudah ditemukan di daerah lain.
Sementara itu, Ketua Asosiasi Perancang dan Pengusaha Mode Indonesia (APPMI) sekaligus Presiden Indonesia Fashion Week, Poppy Dharsono, menjelaskan bahwa tema “Ulos Simetria” mengandung pesan mengenai pentingnya menjaga keseimbangan antara warisan budaya dan perkembangan kreativitas dalam industri fashion.
Poppy menilai rangkaian Indonesia Fashion Week 2026 menjadi ruang bertemunya kreativitas, gagasan dan inovasi para pelaku mode Indonesia. Kolaborasi tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya memperkuat posisi Indonesia dalam industri fashion di tingkat kawasan maupun dunia.













