Selain persoalan sasaran program, Amin juga menilai tata kelola anggaran harus dibarengi dengan sistem pendataan yang akurat agar bantuan benar-benar diterima masyarakat yang membutuhkan.
“Jika tujuan utamanya membantu masyarakat rentan dan membutuhkan dukungan gizi, maka harus ada sistem yang memastikan penerima manfaat benar-benar tepat sasaran. Jangan sampai anggaran besar yang dikeluarkan tidak memberikan dampak maksimal,” ujarnya.
Cipayung Plus juga meminta pemerintah melakukan kajian lebih mendalam terhadap Program Koperasi Desa Merah Putih agar implementasinya mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat dan tidak sekadar berorientasi pada kepentingan ekonomi tertentu.
Selain itu, mahasiswa menyampaikan perhatian terhadap kenaikan harga BBM non-subsidi yang dinilai dapat berdampak pada meningkatnya biaya transportasi dan distribusi sehingga berpotensi memengaruhi harga berbagai kebutuhan masyarakat.
“Kenaikan BBM non-subsidi tetap berpotensi memengaruhi harga kebutuhan masyarakat karena berdampak terhadap biaya transportasi dan distribusi. Karena itu kami meminta pemerintah memperhatikan dampak sosial dan ekonomi yang ditimbulkan,” kata Amin.













